Cinta dan kewajiban

Perkara cinta bukanlah hal yang tabu dalam segala ruang dan sendi” kehidupan, tak kenal tua dan muda maka jangan heran ketika berbagai persepsi lahir yang membahasakan tentang cinta sebagai bagian dari ekspresi. Jadi saya rasa persoalan sudut pandang serta ekspresi bukanlah sesuatu hal yang penting utk kita perdebatkan karena hal demikian hanyalah tentang siapa dan bagaimana ia merasai dan membahasakannya dalam tutur, pun juga takkan mengurangi kesucian cinta yang sebenarnya. Namun satu hal yang perlu kita Ĺ•enungi bersama bahwa hakekat cinta itu lahir dari nurani bukan dari tutur yang bermetamorfosa dalam birahi terbungkus dalam retorika memukau. Kaula muda milineal seringkali menggaungkan satu sudut pandang bahasa cinta bahwa kecintaan lahir dari tatap yang merasuk kejiwa menggorogoti nalar menundukkan hati, disatu sudut pandang lain pun mengemukakan bahwa bagaimana mungkin diri mencintai kekasih Tuhan yang dimana diri tak pernah bertatap dengannya, hal ini hanya perlu didudukkan pada konteksnya sebab cinta adalah perkara rasa, cinta tak pernah meminta utk di balas memberi tanpa pamrih dan ikhlas tanpa dendam, cinta ibarat bibit bunga apabila ia ditanam pada tempat yang benar maka hasilnya akan indah. Maka dari sinilah kerinduan itu akan di hadirkan oleh kecintaan yang di mana kesejatian cinta hanyalah bermuara pada tepian yang tak berujung dari sang maha pemilik segala rasa, kita memang dikodratkan utk mencinta dan merindu maka cinta adalh kewajiban diri pada Tuhan sebagai jembatan utk kembali dan cintapun sebagai media dalam membangun sebuah mahligai rasa dua insan.

Iklan

Lembar kenangan

Ketika senja mentransformasi diri menjadi jingga, muncullah redup diantara binar cahaya mentari seiring rindu menumpahkan rasa, hal senadah yang terlantun dalam syair mandar bahwa ” mua lessea malai anna maullung naung allo damo pettule salili,u mo tu,u” . Perkara rindu bukanlah bualan kata semata, wujudnya memang tak nampak namun mampu meresahkan jiwa para penikmat rasa yang berjibaku dengan kerinduan, selalu saja ada rasa yang lahir dari sebuah moment yang terlampir dalam lembar kenangan tersusun rapi dalam nalar. Rindu itu mengasyikkan tatkala rasamu berdamai dengannya dan juga menyiksa tatkala obsesi rasamu memuncak, jangan pernah sekalipun menyalahkan jarak karena engkau takkan pernah tau dalamnya rindu jikalau tak ada bentangan jarak yang jadi pemisah maka berterima kasihlah pada waktu dan jarak.

Berbagai rasa akan hadir dalam setiap moment entah itu haru, bahagia bahkan rasa yang tak biasa beraroma cinta pun tak jarang menyelinap diantara serunya kisah diantara kita. Jikalau kaula muda beranggapan bahwa kecintaan itu lahir dari mata turun ke hati maka aku tak sepaham dengannya sebab jikalau itu indikatornya lantas bagaimana mungkin kecintaanmu hadir pada kekasih Allah sedang engkau tak pernah jumpa dengannya maka kesimpulannya adalah cinta itu hidayah yang lahir dari nurani yang ditopang oleh keyakinan bukan semata dari tatap sebab terkadang logika dan rasa tak bisa kompromi sehingga menjadi celah lahirnya kata dusta

Lawan para pemakai topeng agama

Akhir-akhir ini begitu geger jagad maya oleh ulah para penista dan pencela yang telah menodai dan mengundang murka dari para pecinta kekasih Allah yakni rasulullah SAW, bagaimana tidak mereka dengan gagahnya mengumbar dalil atas pernyataan yang mengkafirkan dan menganggap bahwa orang tua dari rasulullah adalah ahli neraka, sungguh ini sebuah sayatan olehnya para manusia-manusia bertopeng itu perlu kita lawan agar tak meronrong harmoni persatuan diantara kita. Mereka layaknya pemegang kunci syurga yang senantiasa menyalahkan yang tak sepaham dengannya, tradisi menjadi sasaran empuk bagi kelompok wahabisme untuk di ronrong dan di leburkan oleh paham” radikalismenya. namun tradisi adalah bagian dari hidup kami sehingga lokalitas akan tetap lestari sebagai aset dan identitas nusantara yang di mana subtansi dari lokalitas adalah sunnah sebagai salah satu bentuk manifestasi cinta

Pemilu Berdarah

Tak lama kita telah menggelar pesta demokrasi serentak antara pilpres dan pileg, ini baru pertama kali dilakukan sepanjang sejarah demokrasi bangsa ini sehingga harusnya ini bisa menjadi sebuah capaian dalam menumbuhkan demokrasi namun yang terjadi malah sebaliknya. Betapa tidak peran retorika yang berbau kebencian begitu gencar berseliweran di medsos dan stasiun tv, tim survei tak lagi netral dalam mengambil sebuah data karena di balut oleh kepentingan golongan, demokrasi bangsa ini telah mengalami dekadensi.

Sampai saat ini sudah ratusan nyawa petugas kpps telah terenggut dan ratusan lainnya mengalami perawatan, apakah ini adalah capaian ataukah rekor oh .. tentu tidak sebab ini adalah misteri seolah ini adalah pembantaian massal. Namun berdasarkan analisa ilmiah seorang dokter bahwa penyebab kematian para petugas kpps tersebut adalah kelelahan akibat beban kerja sehingga dapat memicu penyakit mereka kambuh, tapi bagi sebagian orang ini masih menjadi misteri dan mengundang banyak tanya sebenarnya ada apa dibalik peristiwa ini sehingga perlu dikulik lebih jauh lagi. Sungguh dengan adanya kejadian ini semoga segera pihak” yang punya otoritas segera mengevaluasi tentang efektivitas pelaksanaan pemilu serentak.

Pertarungan gagasan diantara dua kubu sampai kini masih sangat sengit, klaim kemenangan dari keduanya semoga berujung pada kerelaan nantinya bukan pada perpecahan, dan yang lebih memprihatinkan akar ukur rumput pun ikut serta dalam pertarungan ini yang dipertontonkan oleh para elit. Sungguh tak elok ketika demokrasi bangsa akan ternoda oleh ego dan arogansi yang tak berkesudahan, mari saling merangkul berbagi kasih dalam cinta jangan biarkan ego meruntukan persatuan bangsa yan terajut dalam bingkai perbedaan

Tragedi maut di bulan suci

Marhaban ya ramadhan adalah kalimat yang di ucapkan oleh seluruh ummat muslim di seluruh penjuru dunia dalam menyambut bulan suci ramdhan, bulan yang penuh berkah sehingga sungguh berbahagia dan beruntunglah orang” yang masih dipertemukan dengan kemuliaan bulan ramdhan yang dimana di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, dimana disebutkan adalah malam lailatul qadar.

Kendati demikian saudara” kita yang ada di palestina dalam menyambut bulan yang penuh berkah ini berselitmutkan duka, bagaimana tidak karena para setan” israil memberondong mereka dengan peluru setannya, sungguh begitu keji, biadap dan tak berprikemanusiaan, sejatinya bulan ramadhan ini pasti mereka juga ingin berbuka dan makan sahur dengan nyaman akan tetapi ketakutan dan tetesan darah bahkan mayat” berceceran yang harus mereka saksikan . Semoga deritamu wahai saudaraku cepat berakhir dan para zionis segera di berikan hidayah oleh Tuhan

Momentum cinta

Tiada kata yang patut terucap

Selain dari ungkapan syukur

Atas momentum kesucian

Memuarakan rindu yang akut

Cucuran keberkahan menyelimuti

Setiap langkah dalam rangkulan cinta

Manifestasi Ar-rahman dan Ar- rahim

Bulir” dosa berguguran

Seiring tetesan air mata

Dalam merubah lakon hidup

Menjauhkan diri daru kubangan dosa

Menuju cahaya cinta

Mari saling menebar kasih

Mari saling menebar cinta

Pada momentum cinta

Sehingga segalanya beraroma cinta

Menghempaskan segala benci

Ulurkan tangan dengan cinta

Mekarkan senyum dengan cinta

Semua tentang cinta

Sebab cinta adalah kesucian

Semoga kita semua

Selalu berada dalam dekapan cinta

Hingga kembali keharibaan Tuhan

Batulaya 6 mei 2019

Mengenal cinta dari sebuah bencana

Roda kehidupan yang terus berputar tiada henti maupun jeda, hari berganti bulan dan bulan berganti tahun seakan tak terasa, namun pernahka kita merenungi diri akan sebuah fenomena yang acap kali kita saksikan di depan mata. Mungkin ragam tanya akan menyeruak kepermukaan apakah Tuhan murka ataukah bencana tersebut adalah manifestasi dari sifat rahman ar-rahimnya yang tak ingin melihat kita semua lalai dalam kubangan dosa, namun terkadang kita sebagai hamba begitu congkak dan berbusung dada atas prestasi dunia sehingga tak dapat menganalisa betapa cinta itu hadir akan tetapi hati seolah mati rasa. Tidakkah kita sadari bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan menuju tempat tinggal yang hakiki, lalu bekal apa yang kita bawa nantinya menghadap keharibaan ilahi, pernahkah kita bertanya pada diri bahwa bencana adalah manifestasi cinta dalam mengembalikan kita pada jalan keridhoannya. Semoga ramadhan menjadi momentum dalam merevitalisasi diri agar menjadi hamba yang senantiasa dalam keistiqomahan